Pandangan Islam Terkait Kematian, Hidup Untuk Mempersiapkan Bekal
Tarawih Ramadan. (Foto: MP)
MerahPutih.com - Setelah kehidupan pasti ada kematian. Hidup Yakini untuk memenhuhi keingan dunia. Tapi, juga jalan untuk menyiapkan bekal diri menghadapi takdir kematian.
Berikut ini adalah ceramah yang menyinggung kematian dan bagaimana umat muslim menyikapinya dalam tajuk "mengingat Kematian Untuk Bekal Hadapi Akhirat"
Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wadinil haqq, liyudzhirahu ’aladdini kullihi, wakafa billahi syahiidaa. Asyhadu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah. Allahumma shalli ’ala sayyidina muhammadin wa’ala alihi washahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Segala puji milik Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan hidayah dan Agama yang benar, untuk memenangkannya atas semua agama lainnya, dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Baca juga:
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah berikan rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad serta kepada keluarga dan sahabatnya, semuanya. Adapun setelahnya.
Dalam Islam, dunia kematian merupakan babak baru yang lebih dekat dekat Tuhan. Setelah kematian masih ada kehidupan di mana pertimbangan amal baik dan buruk dipertanggungjawabkan.
Suatu surah dalam Alquran menyatakan ada yang lebih dekat dari urat nadi yakni kematian. Artinya kematian itu memang sebegitu dekatnya dengan manusia.
Tidak ada manusia yang abadi. Sekalipun manusia itu adalah nabi, orang yang terpilih. Seperti janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati.
Lantas seperti apakah sikap kita terhadap kematian? Takut? Tidak tepat. Karena itu menjadi satu jalur takdir maka manusia bertugas melakukan pembekalan yang cukup menhadapi dunia kematian.
Dengan apakah bekal-bekal itu disiapkan? Bukan harta. Bukan jabatan. Bukan pangkat. Bukan popularitas melainkan dengan amal soleh dan amal baik.
Kita gunakan hak Allah SWT "nyawa" yang diberikan kemanusia ini dengan mengumpulkan pahala yang sebanyak-banyaknya. Dengan demikian insya Allah akan timbul dari jiwa kita rasa taqwa kepada Allah.
Wa amaa jaa'lma libasyariminqoblikal khuldi. Afaimmitta fahumulkholidunna kullu nafdi dzaiqotulmaut. Wanablukum bisyirri walkhoirifitnah. Wailainaatirjau'nn
Artinya: Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, Apakah mereka akan kekal? tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.(QS. Al- Anbiyaa: 34-35)
Kaum Muslimiin rahimahullah
Ayat di atas Allah telah memberi pemahaman kepada kita bahwa semua manusia pasti akan mati dan sebelum mati manusia pasti akan diuji dengan berbagai ujian.
Suatu membuat kita tidak senang seperti sakit, kemiskinan dan kematian. Selain itu kita juga diuji dengan kebaikan dan kesenangan, seperti kekayaan, harta yang banyak dan ilmu yang kita miliki.
Maka kita sebagai orang beriman semua hal itu perlu disadari bahwa kehidupan di dunia ini adalah sementara, di akhirat kita akan bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya lagi kekal dan abadi selamanya.
Maka marilah sejenak kita buka kembali sejarah kematian Nabi Idris. Nabi Idris: Wahai Malaikat Izroil. Lantas apa maksud kedatangan Engkau kemari? Adakah Engkau ingin mencabut nyawaku?
Malaikat Izroil: Tidak Idris. Saya datang memang untuk mengunjungimu, karena saya rindu dan Allah mengizinkan Saya.
Nabi Idris: Wahai Izrail. Saya punya satu permintaan dan tolong kabulkan. Tolong cabut nyawa Saya. Dan minta izin ke Allah untuk mengembalikan nyawa Saya. Saya hanya ingin merasakan sakaratul maut yang banyak orang katakan sangat dahsyat.
Malaikat Izrail: Sesungguhnya saya tidaklah mencabut nyawa seseorang pun, melainkan hanya dengan izin Allah.
Kemudian Allah mengabulkan permintaan Sang Nabi. Dan Malaikat Izroil pun mencabut nyawa Nabi Idris saat itu juga. Malaikat Izroil menangis melihat sahabatnya merasakan kesakitan. Setelah mati, Allah menghidupkan kembali Nabi Idris.
Setelah hidup Nabi Idris menangis sejadi-jadinya. Dia tidak bisa membayangkan jika manusia-manusia lain mengalami sakaratul maut dengan kedahsyatan yang sama. Bahkan rasulullah pernah menyebutkan : “Sakitnya sakaratul maut itu, seperti tiga ratus kali sakitnya tusukan pedang”. (HR. Ibnu Abu Dunya).
Maka sudah seharusnya kita memperbanyak mengingat mati, agar kita selalu berhati-hati hidup dipermukaan bumi ini. Dan dengan mengingat mati seorang pasti akan mengakhiri perbuatan maksiatnya kepada Allah. Serta lebih giat bertaubat menuju ampunannya. (Tka)
Bagikan
Tika Ayu
Berita Terkait
Duh, Tingginya Kasus Kematian Jamaah Haji Indonesia Jadi Sorotan Arab Saudi
Pertanda Bahaya! 418 Jamaah Haji Indonesia Meninggal Mayoritas Penyakit Jantung
Gegara Ancaman Teror Bom Saudia Airlines, Pemulangan Jamaah Haji Embarkasi Solo Terlambat
Jemaah Haji Indonesia ‘Selundupkan’ Air Zamzam Berujung Dibongkar Aparat Arab Saudi
Jamaah Haji Jangan Nekat Sembunyikan Air Zamzam di Koper, Pasti Kena Sita!
Saudi Alami Puncak Panas Ekstrem, Jamaah Haji Jangan Keluar Hotel 10.00–16.00
178 Orang Positif COVID-19 di RI, Jemaah Haji Pulang Batuk Pilek Wajib Cek ke Faskes Terdekat
Tiba Tanah Air, Jamaah Haji Kloter Perdana Embarkasi Solo Sujud Syukur di Lintasan Pesawat
Banyak Jemaah Haji Indonesia Tak Dapat Makanan, Pengelola Rogoh Kocek Rp 6,5 Miliar untuk Ganti Rugi
Jemaah Haji Indonesia Embarkasi Solo akan Tiba di Tanah Air Jumat (13/6) Pagi