MerahPutih.com - Malam Lailatul Qadar menjadi salah satu momen yang paling dinantikan umat Islam pada bulan Ramadan. Malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan ini diyakini penuh dengan keberkahan serta ampunan dari Allah SWT.
Banyak umat Muslim berusaha meraih keutamaan malam tersebut dengan memperbanyak ibadah, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Upaya mengejar malam Lailatul Qadar dilakukan dengan meningkatkan ibadah wajib maupun sunnah selain puasa Ramadan.
Dalam sejumlah hadis, Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan beberapa tanda yang berkaitan dengan malam Lailatul Qadar. Berikut penjelasannya:
Baca juga:
Matahari Terbit Tanpa Sinar Menyilaukan
Salah satu tanda yang disebutkan dalam hadis adalah kondisi matahari pada pagi hari setelah malam Lailatul Qadar.
Dari Ubay bin Ka'ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا
“Malam itu adalah malam yang diperintahkan Rasulullah SAW kepada kami untuk menghidupkannya dengan ibadah, yaitu malam ke-27 (Ramadan). Tanda-tandanya adalah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.”
(HR. Muslim no. 762)
Hadis ini menjelaskan bahwa pada pagi hari setelah Lailatul Qadar, matahari tampak terbit dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan.
Malam yang Sejuk dan Tenang
Tanda lain disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah SAW bersabda:
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
“Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas dan tidak pula begitu dingin. Pada pagi harinya matahari bersinar tidak begitu cerah dan tampak kemerah-merahan.”
(HR. Ath-Thoyalisi dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Hadis tersebut menggambarkan suasana malam Lailatul Qadar yang terasa tenang dan sejuk, serta tidak ekstrem dalam kondisi cuaca.
Baca juga:
Lailatulkadar: Arti, Keutamaan, dan Makna Malam Penuh Kemuliaan di Bulan Ramadan
Meski terdapat sejumlah tanda yang disebutkan dalam hadis, para ulama mengingatkan bahwa tanda-tanda tersebut umumnya baru diketahui setelah malam itu berlalu.
Tidak ada penjelasan khusus mengenai tanda personal bahwa seseorang telah mendapatkan malam Lailatul Qadar.
Ulama besar Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan:
وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي
“Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda Lailatul Qadar. Namun kebanyakan tanda tersebut tidak tampak kecuali setelah malam itu berlalu.”
(Fath Al-Bari, 4:260)
Karena itu, umat Islam tidak dianjurkan untuk sibuk mencari tanda-tanda tersebut. Hal yang lebih utama adalah memperbanyak ibadah selama sepuluh malam terakhir Ramadan.
Baca juga:
Doa Malam Lailatul Qadar yang Dianjurkan Nabi Muhammad: Arab, Latin, dan Artinya
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah SAW diketahui sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Rasulullah SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”
(HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)
Salah satu amalan yang juga dianjurkan pada malam-malam terakhir Ramadan adalah melaksanakan shalat berjamaah, terutama shalat Isya dan Subuh.
Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ
“Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya pahala seperti shalat setengah malam. Dan siapa yang melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah, maka baginya pahala seperti shalat semalam penuh.”
(HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi no. 221)
(Tka)