MERAHPUTIH.COM - KERATON Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Kirab Hajat Ndalem Malam Selikuran atau peringatan malam 21 Ramadan, Senin (9/3) malam. Tradisi tersebut telah ada sejak PB X untuk menyambut Lailatulkadar.
Baik kubu PB XIV Purbaya dan PB XIV Hangabehi sama-sama menggelar kirab dengan waktu bersamaan, tetapi dengan rute berbeda.
Kirab Malam Selikuran kubu LDA atau kubu Pakubuwono XIV Hangabehi mengambil rute dari Kori Kamandungan Keraton Solo mengelilingi Baluwarti dan finis di Masjid Agung Solo. Peserta kirab terdiri abdi dalem membawa lampu ting (lentera) dan tumpang sewu yang ditempatkan dalam wadah berupa jodang.
Setelah didoakan, tumpeng sewu tersebut dibagikan kepada masyarakat. Kirab Malam Selikuran berlangsung khidmat. Ketua Eksekutif LDA Keraton Solo KPH Eddy Wirabhumi mengatakan Malam Selikuran dimaknai banyak orang sebagai malam 1.000 bintang. Karena itu, dalam kirab Malam Selikuran peserta membawa tumpeng sewu yang ditempatkan dalam delapan ancak atau jodang. “Tumpeng sewu dibagikan kepada yang hadir mengikuti acara Malam Selikuran. Selebihnya kepada masyarakat," kata Eddy, Senin (9/3).
Baca juga:
Lailatulkadar: Arti, Keutamaan, dan Makna Malam Penuh Kemuliaan di Bulan Ramadan
Ia mengatakan Malam Selikuran juga merupakan tradisi masyarakat Jawa untuk menyambut lailatulkadar. "Kita ini berharap di dalam menjalankan ibadah ini nanti ketemu lailatulkadar. Itu malam istimewa,” katanya.
Sementara itu, kubu Pakubuwono XIV Purboyo juga mengadakan kirab tradisi Malam Selikuran. Namun, rute yang dilewati berbeda. Kirab mengambil rute Keraton Solo-Alun-alun Utara-Jalan Slamet Riyadi-Taman Sriwedari.
Sentono dari pihak Pakubuwono XIV Purboyo, Kanjeng Pangeran Aryo Adipati Nur Wijaya, mengatakan kirab Malam Selikuran menjadi tanda memasuki sepertiga terakhir bulan Ramadan. Purboyo juga ikut hadir dalam kirab Malam Selikuran. “Jadi ini sebagai tanda syukur bahwa kita memasuki sepertiga terakhir dari bulan Ramadan," katanya.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengatakan ini merupakan kegiatan kebudayaan dan melestarikan budaya.
“Kami mendukung kegiatan budaya yang digelar Keraton Surakarta ini sebagai bentuk pelestarian budaya,” pungkasnya.(Ismail/Jawa Tengah)
Baca juga:
Sambut malam Lailatulqadar, Keraton Surakarta Gelar Kirab Ting Malam Selikuran