MERAHPUTIH.COM - JEMAAH calon haji Indonesia diminta untuk mewaspadai risiko kelelahan panas (heat exhaustion) hingga sengatan panas (heat stroke) saat menjalani puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna, Arab Saudi.
Tim Kesehatan Haji Sektor 1 Daerah Kerja (Daker) Bandara Muhammad Fathi Banna Al Faruqi menjelaskan kondisi tenda di Arafah dan Mina yang padat, ditambah cuaca ekstrem, kerap membuat pendingin ruangan atau AC maktab tidak bekerja optimal.
Oleh karena itu, jemaah diminta melakukan langkah mandiri untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.
“Jemaah bisa mengaktifkan sistem pendinginan eksternal mandiri untuk menurunkan suhu tubuh. Jangan menunggu sampai merasa pusing atau lemas baru bertindak,” ujar Fathi dalam keterangannya, dikutip Selasa (26/5).
Baca juga:
Jamaah Haji Indonesia Mulai Bergerak ke Arafah, Puncak Ibadah Haji Dimulai
Jemaah calon haji disarankan melakukan teknik pendinginan tubuh dengan mengompres area pembuluh darah besar menggunakan handuk atau kain basah. Area yang dianjurkan antara lain leher bagian belakang atau samping, ketiak, dan lipatan paha.
Tim Kesehatan Haji Sektor 1 Daerah Kerja (Daker) Bandara Muhammad Fathi Banna Al Faruqi
Menurut Fathi, mendinginkan titik-titik tersebut dapat membantu menurunkan suhu darah lebih cepat sehingga rasa sejuk menyebar ke seluruh tubuh. Selain itu, jemaah juga dianjurkan membawa botol semprot kecil berisi air untuk digunakan saat cuaca terasa sangat panas.
Air dapat disemprotkan ke wajah, lengan, dan leher, kemudian tubuh dikipas menggunakan kipas manual maupun kipas portabel. “Proses penguapan air dari kulit ini meniru mekanisme keringat alami dan sangat efektif membuang panas tubuh secara instan,” katanya.
Fathi juga mengingatkan pentingnya penggunaan pakaian longgar dan berbahan tipis, khususnya bagi jemaah perempuan dan jemaah pria yang telah mengambil tahallul awal sehingga diperbolehkan melepas pakaian ihram. Ia menyarankan penggunaan pakaian berbahan katun tipis dengan warna cerah agar panas tubuh tidak terperangkap di dalam pakaian.
Di sisi lain, jemaah diminta mengenali tanda-tanda awal gangguan akibat panas ekstrem. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai di antaranya kram otot, pusing, mual, jantung berdebar cepat, hingga keringat berlebih.
Dia menegaskan kondisi menjadi darurat apabila tubuh terasa sangat panas, tapi tidak lagi mengeluarkan keringat karena hal itu bisa menjadi tanda heat stroke yang berpotensi membahayakan nyawa. “Segera cari petugas kesehatan jika Anda atau rekan satu tenda mulai mengalami gejala tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan menjaga kondisi tubuh tetap stabil selama Armuzna menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan kesehatan serius akibat cuaca panas ekstrem di Arab Saudi.(knu)
Baca juga:
Timwas Haji DPR Pantau Ketat Pelaksaan Armuzna, Bersiap Dengan Situasi Tak Terduga

