MerahPutih.com - Penyelenggaraan ibadah haji 2026 menghadirkan banyak cerita perjuangan dari para jemaah Indonesia. Salah satu kisah yang menyentuh datang dari Jumariah, jemaah haji lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Di usianya yang telah memasuki kisaran 70 tahun, Jumariah akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Tanah Suci setelah puluhan tahun menabung dari hasil bertani.
Ingatan Jumariah memang tak lagi tajam untuk mengingat usia pastinya. Namun, semangat dan keteguhannya menjalani hidup masih begitu kuat.
Dilansir dari keterangan Humas Kementerian Haji RI, keseharian Jumariah di kampung halamannya berlangsung sederhana dan nyaris tanpa keluhan. Setiap pagi selepas subuh, ia memberi makan ayam peliharaannya, membersihkan rumah panggung tempat tinggalnya, lalu memasak untuk dirinya sendiri.
Tepat pukul 09.00 pagi, ia mulai bekerja di kebun dan sawah. Dengan membawa sabit, Jumariah merawat kebun ubi milik tetangganya. Setelah itu, ia berjalan sekitar 50 meter menuju sawah kecil miliknya seluas 15 are untuk menyiangi padi.
“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai sabit, kalau sekarang sudah dibantu mesin,” kenangnya saat ditemui di Makkah, Arab Saudi, dikutip Senin (18/5).
Baca juga:
Jelang Puncak Haji, Cuaca Panas Jadi Ujian Terberat Rangkaian Armuzna
Di balik kehidupan yang dijalani seorang diri, Jumariah mengaku tidak pernah merasa benar-benar sendirian. Keyakinannya kepada Tuhan menjadi kekuatan terbesar yang membuatnya terus bertahan sekaligus memupuk mimpi berhaji.
Meski tidak bisa membaca dan menulis, bahkan tak pernah mengenyam pendidikan formal, Jumariah tidak menyerah pada keadaan.
Niat berhaji mulai ia bangun sekitar 20 tahun lalu.
Sedikit demi sedikit, ia menyisihkan hasil kerja kerasnya dan menyimpannya di dalam ember di rumah.
“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember,” tuturnya polos.
“Kalau saya dapat Rp 110 ribu, saya simpan Rp 50 ribu,” ujarnya.
Pada 2011, setelah tabungannya mencapai Rp25 juta, Jumariah memberanikan diri mendaftar haji dengan bantuan kemenakan jauhnya.
Sejak saat itu, ia semakin giat menabung demi melunasi biaya perjalanan hajinya.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya terbayar ketika namanya resmi masuk dalam daftar jemaah haji yang berangkat pada musim haji 2026.
Baca juga:
Tim Pengawas Haji Ingatkan Pemerintah Pantau Kesehatan Jemaah Terkait Hantavrus
Semangat Jumariah pun tak surut meski usia tak lagi muda. Ia rela menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer dari rumah menuju lokasi manasik.
Lebih dari 80 kali sesi manasik yang digelar Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) diikutinya tanpa pernah absen.
Jumariah selalu duduk di barisan paling depan untuk menyimak setiap arahan pembimbing haji.
Ketangguhannya juga terlihat selama berada di Tanah Suci.
Di Madinah, ia mampu beriktikaf di Masjid Nabawi sejak azan Asar hingga salat Isya berjamaah. Dengan bantuan rombongan kloternya, Jumariah yang tidak memiliki ponsel juga berhasil masuk ke Raudhah.
Sesampainya di Makkah pada Sabtu (9/5), Jumariah bahkan telah menuntaskan tiga kali umrah, terdiri atas satu umrah wajib dan dua umrah sunnah.
Hebatnya, ia disebut tak pernah mengeluhkan sakit selama menjalani rangkaian ibadah.
“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucapnya. (Knu)

