MerahPutih.com - Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, mengingatkan pemerintah agar mengantisipasi secara serius berbagai tantangan menjelang fase Armuzna yang menjadi puncak pelaksanaan ibadah haji.
Menurutnya, fase perjalanan jemaah dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina merupakan titik paling krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji.
“Sebentar lagi kita akan memasuki perjalanan ibadah haji menuju Armuzna. Menjelang Armuzna inilah yang perlu hati-hati, karena tantangannya jauh lebih berat dibanding fase sebelumnya,” kata Marwan di Mekkah, Sabtu (23/5).
Fase Armuzna Dinilai Paling Berat
Marwan menjelaskan, sebagian persoalan yang muncul saat Armuzna memang berada di luar kendali pemerintah Indonesia karena berkaitan dengan otoritas dan sistem layanan di Arab Saudi.
Namun demikian, pemerintah tetap harus menyiapkan langkah antisipasi dan alternatif agar pelayanan kepada jemaah tetap berjalan optimal.
Ia menyoroti pentingnya ketersediaan makanan cepat saji bagi jemaah haji selama fase Armuzna. Menurutnya, distribusi makanan harus dipastikan benar-benar sampai ke tangan jemaah sebelum keberangkatan menuju Arafah.
“Kalau makanan cepat saji tidak tersedia, itu akan menjadi problem serius. Sebab pada fase Armuzna, distribusi makanan dari dapur umum sudah tidak bisa berjalan normal karena keterbatasan akses dan mobilitas,” ujarnya.
Baca juga:
Fase Armuzna Puncak Haji, Jemaah Indonesia dapat Jatah 15 Porsi Katering Ready To Eat
Marwan mengingatkan agar makanan sudah diterima jemaah paling lambat pada tanggal 6 sore. Dengan demikian, jemaah masih memiliki persediaan konsumsi saat mulai bergerak menuju Armuzna pada tanggal 7 dan 8 Zulhijah.
Menurutnya, persoalan konsumsi dapat menjadi masalah serius apabila distribusinya tidak berjalan tepat waktu.
Marwan mengaku mulai melihat adanya tanda-tanda kekurangsiapan, khususnya terkait penyediaan makanan cepat saji yang disebut baru disiapkan satu kali pada H-2 Armuzna.
Padahal, pemberangkatan jemaah dilakukan dalam beberapa gelombang dari pagi hingga malam hari.
“Kalau yang berangkat siang atau malam, lalu mereka makan apa? Ini yang harus segera dicarikan jalan keluar karena pada fase itu restoran juga sudah banyak yang tutup,” tegasnya.
Baca juga:
Kemendag Bantu Hambatan Ekspor Makanan Siap Saji untuk Jemaah Calon Haji di Arab Saudi
Selain konsumsi, Marwan juga menyoroti kesiapan transportasi bus yang menjadi faktor penting selama mobilisasi jemaah.
Ia menilai persoalan transportasi dapat berdampak berantai terhadap layanan lainnya, mulai dari distribusi konsumsi hingga penempatan jemaah di tenda-tenda Armuzna.
“Kalau bus bermasalah, dampaknya akan ke mana-mana. Bisa mengganggu distribusi konsumsi, penempatan tenda, sampai memperlambat mobilitas jemaah,” katanya.
Risiko Kelelahan dan Kesehatan Jemaah

Marwan turut menyinggung tingginya risiko kelelahan jemaah saat pelaksanaan lempar jumrah di Jamarat.
Menurutnya, fase tersebut selama ini menjadi salah satu periode dengan tingkat kelelahan dan risiko kesehatan tertinggi bagi jemaah haji. Karena itu, pemerintah diminta menyiapkan mitigasi maksimal.
“Jemaah biasanya sudah dalam kondisi sangat lelah ketika dari Mina menuju Jamarat lalu kembali lagi ke Mina. Ini harus benar-benar diantisipasi karena pada fase-fase seperti itu angka kematian pada tahun-tahun sebelumnya juga cukup tinggi,” tuturnya.
Meski memberikan sejumlah catatan, Marwan tetap mengapresiasi pelaksanaan haji tahun ini yang dinilainya lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ia menilai pelayanan terhadap jemaah hingga saat ini berjalan cukup baik.
Kita mengapresiasi pelayanan jemaah sampai hari ini cukup baik. Tapi jangan sampai menjadi lengah dan terlalu percaya diri, karena dua hari ke depan justru tantangannya semakin berat,
Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang.
(Pon)

