MerahPutih.com – Jamaah haji Indonesia memasuki fase lontar jamarah pada hari Tasyrik di Mina, Arab Saudi. Untuk memastikan keselamatan, Kementerian Haji dan Umrah RI menyiagakan Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat.
“Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina,” kata Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, dalam keterangannya kepada media, dikutip Jumat (29/5).
Baca juga:
Jamaah Haji Indonesia Dilarang Lempar Jumrah Jam 10 Sampai 2 Siang, Ini Alasannya!
Posko Strategis di Jamarat
Maria menjelaskan posko MCR ditempatkan di titik-titik strategis di area Jamarat dan rute perlintasan jamaah haji asal Indonesia.
Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jamaah selama puncak ibadah haji,
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff
Menurut dia, penempatan ini dilakukan agar petugas dapat memantau situasi secara langsung, merespons cepat kondisi darurat, serta memberikan bantuan kepada jamaah yang membutuhkan penanganan segera.
“Pelindungan jamaah adalah prioritas. Karena itu, petugas tidak hanya berada di tenda-tenda jamaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan,” ujarnya.
Baca juga:
Muzdalifah-Mina Jalur Haji Terpadat, Panwas DPR Ingatkan Jangan Sampai Ada Jemaah Tercecer
Imbauan Kepatuhan Jadwal
Sejak 11 Dzulhijjah 1447 Hijriah, jamaah haji Indonesia mulai melaksanakan lontar tiga jamarah: Ula, Wustha, dan Aqabah.
Kemenhaj mengimbau jamaah untuk mengikuti jadwal lontar yang telah ditetapkan bagi masing-masing kloter dan tidak melaksanakan lontar di luar jadwal resmi. Dilansir Antara, jamaah juga diimbau tidak berangkat sendiri menuju Jamarat.
Seluruh pergerakan harus dilakukan secara berkelompok, didampingi petugas, serta mengikuti arahan ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, sektor, dan pembimbing ibadah,
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff
Antisipasi Cuaca dan Kepadatan
Jamaah juga diminta memperhatikan waktu larangan melontar, terutama untuk menghindari paparan cuaca panas dan potensi kepadatan. Pada waktu larangan, jamaah diminta tetap berada di tenda, menjaga kondisi fisik, memperbanyak minum air putih, dan menunggu arahan petugas.
Untuk memperkuat layanan selama fase Mina, Kemenhaj menyiagakan 1.356 Petugas Satgas Mina. Mereka ditempatkan di sejumlah titik pantau, jalur pergerakan jamaah, pos rute Jamarat, pos MCR bawah dan atas, serta pos koordinator tanazul. (*)

