Merahputih.com - Aroma bumbu rempah nusantara menyeruak tajam di antara deretan hotel menjulang di wilayah Madinah, Arab Saudi. Harum bumbu asli Indonesia menjadi obat rindu paling ampuh bagi ribuan jemaah calon haji Indonesia saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Layanan konsumsi kini hadir lebih dekat, langsung menyentuh pintu hotel guna memastikan raga tetap bugar dan ibadah tetap khusyuk.
Setidaknya, ada 23 dapur katering profesional memproduksi ribuan porsi setiap hari dalam pengawasan ketat standar kesehatan internasional. Skema distribusi menjamin makanan sampai tepat waktu ke hadapan jemaah tanpa perlu keluar gedung.
Baca juga:
Uji Kelayakan dan Penambahan Porsi Gizi
Setiap sajian melewati tahapan seleksi ketat sebelum menyentuh lidah jemaah. Prosedur pemeriksaan rasa dan kualitas berlangsung rutin.
“Ada meal test ke Daker atau ke wisma untuk dicoba terlebih dahulu sebelum diberikan kepada jemaah, guna mengecek konsumsi sudah sesuai ketentuan, baik sisi gramasi maupun kualitas,” ujar Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi, Indri Hapsari, Kamis (23/4).
Tahun ini, porsi asupan mengalami peningkatan berdasarkan rekomendasi ahli gizi Kementerian Kesehatan. Jemaah mendapatkan tambahan protein dari sebelumnya 75 gram menjadi 80 gram. Takaran nasi juga naik menjadi 170 gram, lengkap dengan tambahan susu, buah, serta puding bervariasi setiap hari.
Jadwal Distribusi dan Layanan Khusus Lansia
Ketepatan waktu menjadi kunci utama dalam menjaga kesegaran pangan di tengah cuaca panas Arab Saudi. Distribusi makanan berlangsung dalam tiga sif waktu utama guna memenuhi kebutuhan energi jemaah.
“Distribusi makanan dilakukan tiga kali sehari, pagi pukul 05.00–08.00 WAS, siang pukul 12.00–14.00 WAS, dan malam pukul 17.00–19.00 WAS,” ujar Indri.
Baca juga:
5.997 Jemaah Calon Haji Indonesia Kloter Pertama Tiba di Madinah, Sebagian Besar Lanjut Usia
Petugas memberikan imbauan agar makanan segera habis dalam waktu maksimal dua jam setelah diterima. Langkah ini penting guna mencegah risiko keamanan pangan.
Bagi jemaah lanjut usia, layanan konsumsi bersifat fleksibel dengan koordinasi melalui ketua kloter. Petugas hotel siap menyesuaikan jenis sajian sesuai kebutuhan fisik jemaah lansia di lapangan, sehingga logistik harian tidak lagi menjadi kendala saat beribadah.