MerahPutih.com - Ratusan ribu Jemaah haji Indonesia sudah berada di Makkah secara bertahap untuk menjalani puncak ibadah haji.
Jemaah calon haji Indonesia gelombang pertama telah berada di Makkah Al-Mukarramah. Sementara jamaah gelombang kedua diberangkatkan dari Tanah Air langsung menuju Makkah.
Musyrif Diny atau Konsultan Ibadah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI Asrorun Niam Sholeh meminta jemaah calon haji Indonesia untuk memperbanyak ibadah, menjaga kesehatan, dan memperdalam pemahaman manasik menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
"Jangan hanya sekadar berangkat ke Tanah Suci tanpa membekali diri dengan ilmu manasik haji. Karena haji adalah ibadah mahdhah yang harus memenuhi syarat, rukun, serta ketentuan keagamaan,” kata Asrorun Niam yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa dalam keterangannya di Jakarta, Senin (18/5).
Baca juga:
Transportasi Jemaah Haji Jadi Pengawasan Khusus DPR
Asrorun meminta jemaah memperbanyak zikir, munajat, dan shalat berjamaah selama berada di Tanah Haram. Bagi jamaah yang sehat dan akan melaksanakan shalat di Masjidil Haram mesti memanfaatkan fasilitas transportasi yang tersedia serta memperhatikan kondisi kesehatan.
Adapun jemaah yang memiliki uzur dapat melaksanakan shalat berjamaah di masjid sekitar tempat tinggal masing-masing di Makkah.
Ia menegaskan, seluruh pemondokan jamaah Indonesia berada di kawasan Tanah Haram yang memiliki keutamaan tersendiri, tidak terbatas hanya di area Masjidil Haram.
Selain itu, kata ia, pembimbing ibadah diminta mengintensifkan pembekalan fikih haji praktis kepada jamaah, terutama terkait syarat dan rukun haji, kewajiban yang harus dilaksanakan, larangan yang perlu dihindari, serta amalan-amalan sunnah pada waktu dan tempat tertentu.
Asrorun Niam mengingatkan pentingnya menjaga kondisi fisik menjelang puncak ibadah haji.
“Jangan memforsir diri, aji mumpung. Fokus dan prioritaskan persiapan rangkaian ibadah haji mulai 8 sampai 13 Zulhijah, terutama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujarnya.
Ibadah haji tidak hanya merupakan ibadah ruhaniyah, tetapi juga ibadah jasmaniyah yang membutuhkan kebugaran fisik serta ibadah maliyah yang memerlukan kesiapan biaya.