MERAHPUTIH.COM - POLRI menemukan adanya sejumlah perubahan harga bahan pokok memasuki bulan suci Ramadan 1447 H. Satgas Saber Pusat telah memantau 18.628 titik di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota seluruh Indonesia selama dua pekan ini.
Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir menjelaskan sejumlah komoditas pangan seperti telur ayam ras, daging ayam ras, daging sapi segar, cabai merah keriting, Minyakita, bawang merah, bawang putih, serta beras medium dan premium mulai menunjukkan tren penurunan harga.
"Tapi di sejumlah provinsi pada Indonesia bagian timur masih ada yang nilainya di atas harga eceran tertinggi (HET),'' tutur Johnny dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta dikutip Kamis (19/2).
Langkah pemantauan secara masif dan tindak lanjut di lapangan diklaim efektif menekan harga komoditas pangan utama, khususnya beras premium dan medium di Zona I dan II, cabai merah keriting, bawang merah, bawang putih, telur ayam ras, serta daging ayam ras.
Johnny membeberkan pengawasan paling banyak dilakukan terhadap pedagang dan pengecer sebanyak 12.317 titik, ritel modern 2.949 titik, grosir 1.868 titik, distributor 1.075 titik, produsen 267 titik, dan agen 152 titik. "Satgas mencatat berbagai tindak lanjut atas temuan pelanggaran di lapangan," tutur Johnny yang juga mantan ajudan Presiden Ketujuh RI Joko Widodo ini.
Baca juga:
Pola Lama Spekulan Pangan Kembali Terulang, DPR Desak Satgas Pangan Sikat Habis Penimbun
Selama pemantauan, satgas menerbitkan 247 surat teguran, melakukan 588 pengisian stok kosong, serta pengambilan 34 sampel pangan untuk uji laboratorium. Selanjutnya, satgas telah mengeluarkan rekomendasi pencabutan satu izin usaha dan tiga izin edar terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan HET/HAP, keamanan, dan mutu pangan.
"Langkah tegas ini menjadi peringatan agar pelaku usaha patuh terhadap regulasi harga dan standar keamanan pangan," ujar Johnny.
Johnny menegaskan, Satgas Saber Pelanggaran Pangan bakal terus meningkatkan intensitas pengawasan dan memperluas sosialisasi pengaduan ke masyarakat. Menurutnya, pengawasan yang kuat menjadi kunci menjaga keamanan pangan.
"Pengawasan berlapis dan partisipasi masyarakat menjadi kunci untuk memastikan pangan yang beredar aman, bermutu, dan terjangkau, terutama menghadapi Imlek, Ramadan, Nyepi dan Idul Fitri 2026," pungkasnya.(knu)
Baca juga:
Foto :