Merahputih.com- Melepaskan diri dari sorotan manusia saat berbuat baik bukanlah sebuah kerugian. Justru di situ letak kebijaksanaan seorang muslim.
Ketika kebaikan dilakukan tanpa panggung dan pujian, hati dilatih untuk benar-benar ikhlas, sebuah nilai yang kian menantang di tengah zaman yang gemar menampilkan hal-hal superfisial dan materiil.
Ramadan menjadi momentum terbaik untuk membersihkan niat dan melapangkan hati. Dengan keikhlasan, ibadah terasa lebih khusyuk dan menenangkan, sementara jiwa fokus memperbaiki diri serta meraih ridha Allah SWT.
Baca juga:
Jadwal Lengkap Pekan 22 Super League 2025/2026: Digelar Lebih Malam Memasuki Bulan Ramadan
Berikut ini ceramah bertajuk Ikhlas dan Ridho adalah Penyejuk Hati yang mengajak kita kembali memurnikan niat dalam setiap amal kebaikan
Assalamualaikum Wr.wb
Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wadinil haqq, liyudzhirahu 'aladdini kullihi, wakafa billahi syahiidaa. Asyhadu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah.
Jamaah yang dirahmati Allah SWT. Puasa yang penuh keberkahan ini menjadi momentum mengukur kekuatan hati dan keimanan diri. Ketaatan yang selama ini kita yakini sudah lebih baik mungkin mendapatkan banyak koreksi. Koreksi itu melalui praktik-praktik sederhana yang mungkin dianggap biasa saja. Contohnya bagaimana kita ikhlas dan bagaimana kita ridho.
Kata Ikhlas itu berasal dari bahasa arab, yang secara istilah diartikan sebagai khalasha (خَلَصَ), yakhlushu (يَخْلُصُ), khulushan (خُلُوْصًا). Makna secara bahasa adalah bersih, murni, jernih, dan tidak bercampur. Secara istilah, ikhlas adalah memurnikan niat beribadah hanya kepada Allah SWT, tanpa campuran riya', tulus hati, dan beramal semata-mata mencari keridhaan-Nya.
Di zaman yang serba viral dan popularitas menjadi hal penting, praktik berbuat ikhlas ini menjadi salah satu hal yang terlewatkan bahkan jauh lebih sulit dilakukan. Padahal dalam Alquran dijelaskan bagaimana keutamaan ikhlas itu lebih besar dampaknya bagi seorang hamba. Karena kebaikannya datang dari Allah SWT, ketimbang pujian yang datang dari manusia.
إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ َرُّهُ مُسْتَطِيرًا وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan, minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga); yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata dimana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan adzab (yang datang) dari Rabb kami, pada suatu hari; yang (pada hari itu orang-orang bermuka) masam, penuh kesulitan. [Al-Insan/76: 5-10].
Tak hanya itu, Allah SWT menjamin kepedulianNya tak lepas bagi hamba-hamba yang selalu mengharap perhatianNya. Sebagaimana yang termaktub dalam Alquran surah Al-Baqarah/2:265.
وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
Keutamaan berbuat Ikhlas bagi seorang hamba, jauh dari kesulitan dan kesusahan.
Seorang yang melakukan sesuatu mengharapkan perhatian Allah SWT, dia selamat dari setiap kesulitan dan kesusahan serta musibah yang menimpanya.
Mendapatkan pahala yang berlipat ganda
Orang yang pergi shalat berjama’ah di masjid dengan ikhlas, maka setiap langkahnya menuju masjid akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajatnya sampai masuk masjid. Dan bila ia masuk masjid, maka malaikat bershalawat atasnya dan mendo’akannya
Ikhlas menggugurkan dosa
Orang yang berpuasa dengan ikhlas, ia akan dihapuskan dosa-dosanya yang lalu. [HR Bukhari]
Ikhlas mengangkat derajat
Dalam hadis Ahmad dan Tirmidzi dan Nasai disebutkan seorang yang ikhlas bersujud kepada Allah SWT, maka akan diangkat derajatnya oleh Allah dan dihapuskan satu kesalahan.
Ikhlas menadapat syafaat di akhirat
Dalam hadis Bukhari dan Muslim disebutkan orang yang ikhlas bersedekah, ia masuk dalam tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan dari Allah pada hari kiamat kelak.
Ikhlas mendapatkan ketenangan hati
Dalam surah Ar Ra’d/13:28 Allah menyebutkan bahwa dia akan memberikan ketenangan hati bagi hambanya yang senantiasa berzikir kepadanya, dan mengharap ridhonya.
Dalam kesempatan puasa yang penuh barakah ini, marilah selalu mengingat ketika berbuat baik hanya mengharap kebaikan dari Allah swt. Karena sudah tentu kita akan mendapatkan balasan langsung dari Allah SWT. Namun sebaliknya jika kita berbuat baik dan mengharap perhatian dan pujian orang lain justru mendatangkan keburukan apakah itu fitnah, cacian atau hinaan.
Wahai saudara muslim, ingat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari no. 1421 dan Muslim, menyebutkan bahwa "seorang yang mengeluarkan suatu sedekah, tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya".
Makna dari hadis tersebut adalah metafora bahwa kebaikan yang dilakukan hendaknya tanpa mengharapkan perhatian orang lain, termasuk menghindari keinginan dipuji (Riya). Karena dengan praktik "sirri" yakni bersedekah secara rahasia, dapat merendam murka Allah. Dan tentu membuat kita jauh dari hal-hal negatif yang justru mengganggu ketenangan hati. (Tka)

