MerahPutih.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meminta seluruh masjid di jalur mudik dibuka untuk para pemudik selama Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
Menag menginstruksikan jajaran Kementerian Agama untuk menggerakkan rumah ibadah, khususnya masjid di jalur mudik, agar menjadi “oase kemanusiaan” yang memberikan kenyamanan bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang.
“Kami mengimbau daerah-daerah yang dilewati para pemudik, ada sekitar 6 ribu masjid di seluruh Indonesia itu supaya nanti hari-hari tertentu, baik itu hari mudik nasional ataupun mudik keagamaan, itu dibuka,” ujar Menag saat memberikan pembinaan ASN di Kantor Wilayah Kemenag Sulawesi Selatan, Selasa (10/2).
Baca juga:
Pesan Prabowo Jelang Ramadan,Ingin Setiap Keluarga Berkecukupan Saat Jalankan Ibadah Puasa
Pemantauan Hilal Awal Ramadan 1447 H dilakukan di 96 Lokasi di Seluruh Indonesia, ini Tempatnya
Selain membuka masjid, Menag juga mendorong pengurus masjid menyediakan buka puasa bagi pemudik yang melintas.
“Bahkan kalau perlu pada mudik Lebaran nanti, para pengurus masjid itu buka pintunya tetapi memberikan buka puasa terhadap jamaah yang mungkin mampir,” sambungnya.
Menag mengingatkan bahwa esensi agama adalah mencintai sesama manusia. Prinsip kemanusiaan universal menjadi fondasi dalam memberikan bantuan sosial, terutama pada bulan suci Ramadan.
“Jangan melihat agamanya orang yang kehausan dan kelaparan. Artinya agama apa pun yang sedang kelaparan itu, beri makan. Allah memuliakan anak cucu Adam, Tuhan tidak mengatakan memuliakan orang Islam saja. Siapapun merasa anak cucu Adam, apapun agamanya, etniknya, warna kulitnya, beri bantuan,” tegasnya.
Baca juga:
Menteri Agama Sebut Indonesia Bak ‘Sekeping Surga yang Diturunkan Tuhan Lebih Awal’
Menag juga mengajak umat beragama untuk saling menghargai ruang publik dan menciptakan suasana yang sejuk bagi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.
“Saya mohon kepada pimpinan umat beragama, mari kita bersosialisasi untuk hal yang positif. Jadikan agama itu sebagai motivasi untuk mencintai orang sekalipun berbeda-beda agama. Itulah orang yang beragama yang sejati,” tutup Nasaruddin Umar. (Knu)