MerahPutih.com - Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar menyampaikan ceramah Subuh di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Sabtu (7/3).
Dalam ceramahnya ia meluruskan terkait polemik pernyataannya tentang zakat yang sempat viral di media sosial.
"Jangan salahkan orang dari potongan ceramah, barangkali kita belum sampai kepada apa yang dimaksud penceramah itu. Itu seperti seorang sufi Al-Hallaj (858-922 M) yang dieksekusi mati, karena dianggap sesat, tapi darah yang mengalir dari tubuhnya akhirnya membentuk la ilaha illallah untuk penunjuk bahwa dia benar," katanya.
Dalam ceramah di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya yang dihadiri sekitar 1.000 orang, Nasaruddin Umar menjelaskan, potongan pernyataannya yang viral terkait zakat 2,5 persen bukan berarti dirinya menganggap zakat tidak wajib.
Ia menegaskan, pemberdayaan umat tidak cukup hanya mengandalkan zakat, tetapi juga perlu mengoptimalkan sumber dana sosial keagamaan lain, seperti wakaf, infak, sedekah, serta berbagai potensi harta umat.
"Namun, pemberdayaan umat itu tidak cukup hanya dengan zakat, tapi ada wakaf, infak, sedekah, dan banyak pundi-pundi mal yang perlu dioptimalkan agar kemiskinan umat pun teratasi," katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak pengelola MAS untuk menjadikan masjid sebagai contoh penguatan pemberdayaan ekonomi umat melalui optimalisasi dana sosial keagamaan.
Menurut dia, sejumlah negara seperti, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab mampu menghimpun dana sosial keagamaan dalam jumlah besar melalui kementerian wakaf untuk mendorong produktivitas masyarakat.
"Mari kita jadikan Masjid Al-Akbar ini sebagai contoh dalam ikhtiar optimalisasi dana sosial keagamaan untuk pemberdayaan jamaah. Di Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab melalui Kementerian Wakaf pun mampu menghimpun dana sosial keagamaan hingga 25-40 persen untuk pemberdayaan masyarakat agar lebih produktif dan berkelanjutan secara sosial dan ekonomi," katanya.
Menteri Agama juga mengajak jamaah menjadikan Ramadhan sebagai momentum meningkatkan martabat beragama.
Ia menekankan bahwa ajaran Islam mendorong umat untuk terus meningkatkan kualitas keimanan, kesabaran, syukur, serta amal saleh.
"Segala sesuatu itu diciptakan dengan martabat, ada martabat di bawah, ada martabat di atas. Manusia juga awalnya dari langit, lalu turun/jatuh ke bumi, nantinya naik ke langit lagi," katanya.