MerahPutih.com - Di bawah bayang-bayang beton Tol Buah Batu, Bandung, terdapat sebuah kisah transformasi sosial yang luar biasa.
Area yang dulunya dikenal sebagai sarang premanisme, transaksi ilegal, dan geng motor kini berubah menjadi pusat spiritual dan sosial berkat berdirinya Masjid Hijrah Bawah Jembatan Tol Buah Batu (BJTB).
Baca juga:
Ngabuburit Puasa Ramadan, Umat Muslim Tadarus Al-Qur’an di Masjid Agung Al-Azhar Jakarta
Dari Wilayah Terlarang ke Ruang Hijrah
Bagi warga sekitar, kolong tol itu pernah menjadi ruang penuh gesekan sosial, ancaman fisik, dan rasa takut yang membuat kebaikan enggan singgah. Saepul Rohmat (47), mantan anggota geng motor, mengingat masa lalu kelam kawasan tersebut.
“Dulunya, area ini juga menjadi tempat singgah geng motor dan kegiatan negatif lainnya. Sangat seram, banyak preman berkeliaran,” kenangnya, saat berbincang dengan awak media, Jumat (6/3).
Hampir setiap malam terjadi keributan, bahkan penggerebekan pernah dilakukan karena penjualan oli ilegal. Namun, Saepul bersama sembilan rekannya memutuskan untuk hijrah.
Baca juga:
Takjil Sehat Petik Melon Segar, Mau Pilih Kulit Putih atau Kuning Ada Semua
Mereka mendirikan masjid sederhana di bawah jembatan tol, meski harus berhadapan dengan penolakan preman dan ancaman perusakan. “Beberapa preman menolak di awal, tapi kami tetap sabar menata secara bertahap,” ujarnya, dikutip Antara.
Pendirian masjid sempat memicu konflik besar, hingga ratusan motor berkumpul untuk menjaga masjid dari ancaman. “Kami berjaga dua hari penuh, tapi akhirnya masjid aman,” ungkap Saepul.
Kehadiran ustaz Hendra dari Lengkong menjadi kunci agar masjid berjalan sesuai syariat, sekaligus membimbing para pemuda yang ingin hijrah.
Perlahan, pandangan preman pun berubah. Beberapa yang awalnya menentang kini ikut membantu pembangunan kecil-kecilan, menata ruangan, atau menjaga keamanan masjid.
Baca juga:
Ramadan 2026 di Jakarta: Daftar Masjid dengan Iftar Gratis dan Agenda Spesial
Dari Bedeng Sederhana ke Masjid 24 Jam
Awalnya, masjid hanya berupa bedeng sederhana dengan lantai belum berkeramik. Namun berkat sumbangan masyarakat senilai Rp 30–100 juta, masjid bertahan dan berkembang. Sejak 2024, masjid BJTB terbuka 24 jam, menyediakan fasilitas gratis seperti air minum, parkir, hingga charging untuk ojek online.
Kini, suasana kolong tol yang dulu menakutkan berubah drastis. Anak-anak bisa bermain, warga berani melintas, dan komunitas sekitar merasa nyaman datang untuk belajar atau beribadah.
Kini, setiap Ramadan masjid menyelenggarakan iftar, tadarus, kajian, salat tarawih, hingga pembagian sembako. Aktivitas rutin lainnya termasuk tablig akbar, berbagi makanan bersama 12 komunitas lokal, serta sedekah Jumat.
Masjid BJTB kini menjadi simbol hijrah dan perubahan nyata. Dari ruang penuh ancaman, kini menjadi pusat sosial, edukasi, dan spiritual. “Masjid ini menjadi wadah hijrah dan transformasi sosial nyata,” tandas Saepul. (*)