Sebelum Mudik, Kemenkes Inginkan Anak Sudah Diimunikasasi Lengkap

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Jumat, 21 Maret 2025
Sebelum Mudik, Kemenkes Inginkan Anak Sudah Diimunikasasi Lengkap

Anak menerima imuniasi polio. (Foto: MerahPutih.com/Didik Setiawan)

MerahPutih.com - Orang tua diharapkan memastikan anak sudah imunisasi lengkap sebelum mudik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan tidak terserang penyakit menular, misalnya di daerah yang terdapat kejadian luar biasa (KLB) polio.

"Imunisasi itu individualnya harus lengkap," kata Direktur Pengelolaan Imunisasi Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Prima Yosephine di Jakarta, Jumat (21/3).

Ia menegaskan, ketika anak diajak pergi ke daerah yang sebagian besar anaknya belum imunisasi, akan rentan terkena penyakit.

"Ketika anak itu pergi keluar dari daerahnya ke daerah yang ternyata sebagian besar anaknya tidak ada imunisasi dan ada orang sakit di situ, mudah sekali terkena penyakit, karena dirinya sesungguhnya tidak punya imunitas juga," ujarnya.

Baca juga:

Semua Anak Cewek Umur 15 Tahun di Jakarta Jadi Target Imunisasi HPV

Menurutnya, apabila ada orang tua yang menyebutkan bahwa anaknya baik-baik saja meski tanpa imunisasi, besar kemungkinan di wilayahnya sebagian besar anak sudah melakukan imunisasi, sehingga terbentuk kekebalan.

"Itu kenapa kita selalu bilang ke ibu-ibu, ada nih orang tua yang bilang, 'anak saya sampai sekarang enggak imunisasi itu sehat-sehat aja kok, enggak sakit'. Padahal mungkin anaknya itu memang tinggal di daerah yang sebagian besar anaknya terimunisasi, sehingga anaknya selamat," paparnya.

Namun, ketika anak tersebut berpindah ke daerah lain, akan sulit memastikan dia tidak akan terkena penyakit, karena tubuhnya belum memiliki kekebalan.

"Kalau sekali anaknya ini pindah, misalnya ke daerah yang cakupannya jelek, karena dia tidak punya kekebalan, anak itu akan mulai sakit," katanya.

Jenis imunisasi lengkap yang harus diberikan untuk anak berdasarkan kelompok usia, pertama, untuk usia kurang dari 24 jam harus mendapatkan vaksin Hepatitis B (HB0), kedua, usia kurang dari satu bulan harus mendapatkan vaksin BCG dan OPV1.

Kemudian, usia dua bulan harus mendapatkan vaksin DPT-HB-Hlb1, OPV2, PCV1, RV1, usia tiga bulan vaksin DPT-HB-Hlb2, OPV3, PCV2, RV2, usia empat bulan vaksin DPT-HB-Hlb3, OPV4, IPV1, RV3, usia sembilan bulan vaksin campak-rubela dan IPV2, usia 10 bulan JE1, dan 12 bulan PCV3.

Selanjutnya, usia 18 bulan campak-rubela 2, DPT-HB-Hlb 4, kelas 1 SD campak-rubela dan DT, kelas 2 SD imunisasi Td, kelas 5 SD imunisasi Td dan HPV2, serta kelas 6 imunisasi HPV2. (*)

#Imunisasi #Mudik #Kemenkes
Bagikan
Ditulis Oleh

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.

Berita Terkait

9.668 Kasus ISPA Muncul Usai Gempa NTT, Kemenkes Ungkap Kondisi Warga di Pengungsian
Kemenkes mencatat 9.668 kasus ISPA pada warga terdampak gempa NTT sejak 15-26 Agustus 2026. Lebih dari 185 ribu warga masih berada di pengungsian.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 27 Agustus 2026
9.668 Kasus ISPA Muncul Usai Gempa NTT, Kemenkes Ungkap Kondisi Warga di Pengungsian
Kemenkes Dirikan 2 RS Lapangan Tangani Korban Gempa NTT, Stok Obat Cukup Dalam 5 Hari
Total jumlah korban jiwa akibat gempa bumi yang menimpa Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 91 jiwa.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 24 Agustus 2026
Kemenkes Dirikan 2 RS Lapangan Tangani Korban Gempa NTT, Stok Obat Cukup Dalam 5 Hari
Program Sejuta Vaksin Kanker Serviks Bakal Diperluas ke Seluruh Indonesia
Program Sejuta Vaksin merupakan kerja sama KORPRI seluruh Indonesia dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai pihak dalam upaya mencegah kanker serviks.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 18 Agustus 2026
Program Sejuta Vaksin Kanker Serviks Bakal Diperluas ke Seluruh Indonesia
Kasus Pasien BPJS Yurizal Viral, DPR Tegur Kemenkes Benahi Pola Gaya Komunikasi Nakes
Anggota Komisi III DPR RI Abdullah meminta Kemenkes membenahi sistem komunikasi pelayanan pasien menyusul kasus Yurizal Tri Chaerawan yang viral.
Wisnu Cipto - Minggu, 09 Agustus 2026
Kasus Pasien BPJS Yurizal Viral, DPR Tegur Kemenkes Benahi Pola Gaya Komunikasi Nakes
Viral Komentar Nakes ke Pasien BPJS, Menkes: Nakes Tidak Boleh Nirempati
"Saya rasa semua profesi yang melayani masyarakat, terutama nakes, enggak boleh ada yang nirempati seperti itu," ujar Budi
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 06 Agustus 2026
Viral Komentar Nakes ke Pasien BPJS, Menkes: Nakes Tidak Boleh Nirempati
60 Persen Penduduk Indonesia Rentan Terkena Hepatitis B, Terinfeksi Pada Masa Remaja
Selama penularan horizontal masih berlangsung, mereka tetap berisiko terinfeksi pada masa remaja maupun dewasa.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
60 Persen Penduduk Indonesia Rentan Terkena Hepatitis B, Terinfeksi Pada Masa Remaja
Kemenkes Kampanyekan Jangan Takut Stigma Negatif Tes HIV, Makin Cepat Diketahui Lebih Baik
Kemenkes dorong masyarakat lakukan tes HIV tanpa takut stigma negatif. Deteksi dini penting untuk menekan penularan dan memastikan pengobatan segera dengan terapi ARV.
Wisnu Cipto - Minggu, 26 Juli 2026
Kemenkes Kampanyekan Jangan Takut Stigma Negatif Tes HIV, Makin Cepat Diketahui Lebih Baik
Kemenkes Tepis Isu dr Zulfikar Magang IDI Meninggal Akibat Bully, Tapi Penyakit Sensitif
Kemenkes ungkap hasil investigasi kematian dr. Zulfikar peserta internsip di Lampung Timur. Disebut akibat penyakit sensitif, bukan beban kerja atau perundungan.
Wisnu Cipto - Jumat, 24 Juli 2026
Kemenkes Tepis Isu dr Zulfikar Magang IDI Meninggal Akibat Bully, Tapi Penyakit Sensitif
Gigi Berlubang, Anemia, Darah Tinggi, Impaksi dan Obesitas Dialami Siswa Indonesia
Beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan pada anak yaitu tingkat aktivitas fisik, anemia pada remaja putri, pemeriksaan mata, telinga, gigi, hingga kejiwaan
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 23 Juli 2026
Gigi Berlubang, Anemia, Darah Tinggi, Impaksi dan Obesitas Dialami Siswa Indonesia
Menkes Kritik Mekanisme Blokir Anggaran Kemenkeu: jangan Dibilang Dikasi kalau tak Bisa Dipakai
Penyerapan anggaran Kemenkes rendah karena dipengaruhi pemblokiran anggaran senilai Rp 12,3 triliun.
Dwi Astarini - Selasa, 21 Juli 2026
Menkes Kritik Mekanisme Blokir Anggaran Kemenkeu: jangan Dibilang Dikasi kalau tak Bisa Dipakai
Bagikan