MERAHPUTIH.COM - SERIBUAN peserta yang terdiri dari Sentono, Abdi Dalem, serta masyarakat mengikuti Kirab Ting Malam Selikuran yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kamis (20/3) malam. Kirab Ting Malam Selikuran ini untuk menyambut malam Lailatulqadar.
Kirab dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Peserta berjalan kaki mulai dari Kori Kamandungan Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta menyusuri Jalan Slamet Riyadi menuju Taman Sriwedari yang berjarak sekitar 3 kilometer
Barisan awal kirab terdiri dari pasukan drum band dan disusul pasukan keraton. Di belakangnya, barulah Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, SISKS Pakubuwono XIII bersama permaisuri yang menaiki mobil. Setelah itu, rombongan abdi dalem yang membawa lampu ting dan sejumlah lampion mengikuti.
Beberapa kereta kuda yang dinaiki sentono dalem atau kerabat raja dan diikuti para abdi dalem yang membawa sejumlah jodang berisi tumpeng sewu tampak mengekor iring-iringan. Di belakangnya, tampak rombongan warga yang membawa oncor serta alat musik rebana.
“Kirab Ting Malam Selikuran merupakan salah satu upacara adat yang memadukan tradisi budaya dan agama, dalam hal ini Islam, yang digelar setiap tahun di bulan Ramadan, tepatnya di malam ke-21,” ujar Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta Hadiningrat, KPA H Dany Nur Adiningrat, Kamis (20/3) malam.
Baca juga:
Mengapa Malam 'Lailatul Qadar' Begitu Istimewa? Ketahui Lebih Jauh Alasannya
Ia menyebut malam selikuran merupakan pengingat bagi muslim bahwa saat ini sudah memasuki malam ke-21 atau yang juga dikenal sebagai malam Lailatulqadar atau malam seribu bulan.
“Jadi, rangkaian upacara ini, dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ke Kagungan Dalem Bon Raja Sriwedari. Iring-iringannya nanti utusan Dalem membawa tumpeng sewu yang memaknai malam seribu bulan,” papar dia.
Dia menambahkan, untuk makna lampion atau kirab ting atau cahaya yakni melambangkan cahaya malam seribu bulan. Jadi ini upacara keagamaan yang dibalut budaya, untuk mengingatkan bahwa di malam-malam ganjil lah malam Lailatulqadar atau malam seribu bulan.
Setelah sampai di Taman Sriwedari, rombongan kirab disambut Wali Kota Solo Respati Ardi. Tumpeng sewu yang dibawa kemudian dibagikan dan diperebutkan warga yang telah menanti.
Acara dilanjutkan dengan pengajian yang diisi pengasuh Pondok Pesantren Minggir, Sleman, KH Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq.(Ismail/Jawa Tengah)
Baca juga: