Petualangan Waktu ke Samudra Pasai, Melihat Kehidupan Masyarakat Pesisir di Kerajaan Besar Bercorak Islam di Sumatera

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Rabu, 12 Maret 2025
Petualangan Waktu ke Samudra Pasai, Melihat Kehidupan Masyarakat Pesisir di Kerajaan Besar Bercorak Islam di Sumatera

Museum Samudra Pasai menyimpan jejak peninggalan kerajaan Islam besar di Sumatera pada abad ke-13 sampai ke-16. (Foto: YouTube/Penerah)

MerahPutih.com - Halo, Guys! Lagi kepikiran, enggak, gimana caranya kita bisa menyatukan semua urusan kita di tengah kesibukan seperti sekarang?

Kadang susah banget, kan, nyesuaiin jadwal antara sekolah, hangout, dan project kreatif yang kalian lagi kerjain.

Nah, ngomongin soal nyatuin sesuatu, ada satu kerajaan di masa lalu yang kayaknya paham betul soal ini.

Yuk, kita ngulik tentang Samudra Pasai, sebuah kerajaan di pesisir utara bagian timur Sumatera yang punya caranya sendiri buat survive di tengah maraknya kekuasaan yang berbeda.

Letak Samudra Pasai sekarang berada di 15 kilometer arah timur Lhoksemauwe, kota di Provinsi Aceh.

Pada masa awal pertumbuhannya, Samudra Pasai ini, kalau boleh dibilang, semacam anak bawang.

Berdiri menjelang akhir abad ke-13, Samudra Pasai muncul dan sezaman dengan Kerajaan Sriwijaya di Jambi, kerajaan besar yang bercorak Buddha dan punya pengaruh India. Selain itu, ada pula Kerajaan Singasari di Jawa Timur.

Enggak jauh dari wilayah Samudra Pasai di pesisir utara Sumatera bagian timur, terdapat pula sejumlah kerajaan kecil lainnya. Misalnya Perlak dan Lamuri. Keduanya dianggap lebih dulu menerima Islam ketimbang Samudra Pasai.

"Sejak tahun 840 - 972 Masehi, Perlak sudah merupakan kerajaan bercorak Islam," sebut arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam makalah "Pasai Dalam Dunia Perdagangan" yang termuat di buku Pasai Kota Pelabuhan Jalan Sutra.

Meskipun kemunculan dan pengaruh Islamnya dapat belakangan, Samudra Pasai lah yang justru mampu lebih berkembang ketimbang dua kerajaan Islam yang lebih dulu.

Samudra Pasai tumbuh dan berkembang dengan campuran kultur lokal, Islam, Arab, dan Persia.

Masa Samudra Pasai tumbuh dan berkembang berbarengan pula dengan kemajuan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Majapahit muncul sebagai kekuatan dominan menggantikan Singasari.

Bisa bayangin, kan, 'si anak bawang' mencoba mengukuhkan kulturnya sendiri di antara dua kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit dan kerajaan kecil lainnya di sekitarnya?

Dan bagaimana Pasai bisa berkembang jadi kerajaan besar?

Yuk kita langsung bahas.

Asal-Usul Nama Samudra Pasai

Sebenarnya Samudra Pasai itu berasal dari dua nama kerajaan yang berbeda.

"Kerajaan Pasai adalah sebuah kerajaan baru setelah Samudera yang dibuka Malikus Saleh untuk puteranya yang bernama Malikus Zahir," tulis Muhammad Gade Ismail dalam buku Pasai dalam Perjalanan Sejarah: Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16.

Menurut Kronika Pasai, catatan sejarah yang menerangkan sejarah negeri Pasai antara pertengahan abad ke-13 sampai pertengahan abad ke-14, nama asli Malikus Saleh adalah Meurah Silu.

Nama ini juga tercatat dalam sumber sejarah lain tentang Samudra Pasai, yaitu Sejarah Melayu (ditulis awal abad ke-17) dan Hikayat Raja-Raja Pasai (ditulis pada abad ke-14).

Peta Samudra Pasai
Lokasi Kerajaan Samudra Pasai di pesisir utara Sumatera bagian timur. (Foto: Repro buku Pasai dalam Perjalanan Sejarah: Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16)

Ketiga sumber menyebut bagaimana Meurah Silu menamakan kerajaannya sebagai Samudra. Meurah mendirikan kerajaan di sebuah bukit yang hanya didiami oleh semut besar yang disebut semut dara pada 1280.

"Dari nama Samudra inilah kemudian pulau Sumatera memperoleh namanya yang dipakai hingga sekarang ini," terang Teuku Ibrahim Alfian, sejarawan Universitas Gadjah Mada, dalam buku Kronika Pasai Sebuah Tinjauan Sejarah.

Sementara nama Pasai diperoleh dari anjing milik Meurah Silu. Ia memberikan nama itu buat menghormati anjingnya yang mati ketika menemaninya berburu kepiting.

Anjing itu bertarung dengan pelanduk (hewan yang berkerabat dekat dengan kijang dan rusa). Setelah itu, ia menyerahkan tempat di mana anjingnya mati kepada anaknya, Malikus Zahir.

Letak kerajaan Samudra dan Pasai bersebelahan dan hanya terpisah oleh sebuah sungai yang sekarang disebut Sungai Peusangan. Samudra berdiri di sebelah kiri, sedangkan Pasai ada di sebelah kanan.

Karena kedekatannya itulah, lama-lama dua kerajaan itu disebut sebagai satu kesatuan, yaitu Samudra-Pasai.

Namun, menurut sejarawan Slamet Mulyana, cerita asal-usul kerajaan ini hanyalah kerata bahasa atau menerangkan sesuatu dengan menghubung-hubungkan hal itu ke hal lainnya.

Dalam ilmu linguistik (bahasa), istilah itu merujuk pada cara menerangkan sesuatu dengan memperlakukannya sebagai singkatan. Misalnya kepo diartikan sebagai Knowing Every Particular Object.

Slamet Mulyana meyakini bahwa Pasai berasal dari kata 'tapasai' yang berarti 'tepi laut'.

"Kata pasai adalah sinonim dari kata pantai, asalnya pun sama juga. Samudera artinya tidak lain dari laut. Negara Pasai adalah negara yang terletak di tepi laut. Jadi, sama dengan negara Samudera," kata Slamet dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara.

Masuknya Islam ke Pasai

Para ahli sejarah belum bisa mengetahui secara pasti kapan Islam masuk ke Pasai. Namun, sebagian mereka meyakini bahwa Islam masuk ke Pasai dari Arab. Ini sesuai dengan keterangan dalam Kronika Pasai.

Para sufi mempunyai pengaruh kuat di Samudra Pasai. Ini tampak dari batu nisan Sultan Malikus Saleh yang berketerangan tahun 1297 Masehi/696 Hijriah bulan Ramadan.

Ada puisi khas sufi yang tertera di nisan yang penuh kaligrafi, ukiran, dan ornamen indah tersebut. Bunyinya:

Sesungguhnya dunia ini fana
Dunia ini tiadalah kekal
Sesungguhnya dunia ini ibarat huma
yang ditenun oleh laba-laba
Demi sesungguhnya memadailah buat engkau
dunia ini
Hai orang yang mencari kekuatan
Hidup hanya untuk masa pendek sahaja
Semuanya tentu menuju kematian.

Nisan Malikus Saleh
Nisan makam Sultan Malikus Saleh yang penuh ukiran dan ornamen indah. (Foto: Repro buku Album Nisan Samudera Pasai)

"Puisi yang bernada sufi ini sayangnya belum diketahui secara pasti siapa penulisnya," ungkap Teuku Ibrahim Alfian dalam makalah "Pasai dan Islam" termuat di buku Pasai Kota Pelabuhan Jalan Sutra.

Kronika Pasai menyebut Malikus Saleh masuk Islam lewat jalur mimpi. Dalam mimpi itu, Malikus Saleh bertemu Nabi Muhammad.

Setelah menganut Islam, Meurah Silu mendapat gelar Sultan Malikus Saleh.

Naskah-naskah lama memang kental sekali dengan pengagungan kepada pemimpin dan cerita berbalut mitos.

Meski kebenaran mimpi tersebut sukar diverifikasi, cerita itu menandakan bahwa Pasai punya keterikatan dengan Islam dan ajaran sufi.

Ajaran sufi mengakui keabsahan mimpi sebagai salah satu sumber pencerahan dan pengetahuan.

Masyarakat Pasai

Selain pemimpin, rakyat Samudra Pasai juga menganut Islam. Ibnu Batuttah, seorang penjelajah samudera dari negeri Maroko, pernah mengunjungi Samudra Pasai selama 15 hari pada tahun 1345.

Batuttah memberikan keterangan jelas tentang kehidupan masyarakat di Samudra Pasai. Ia menyebut pemimpin Pasai yang bergelar Malikus Zahir sebagai orang yang ramah.

Gelar sultan itu mirip dengan gelar anak kandung Malikus Saleh, tapi sultan yang ditemui oleh Batuttah bukanlah anak kandungnya. Sebab anak Malikus Saleh telah wafat pada tahun 1326.

Batuttah juga menggambarkan adat masyarakat Samudra Pasai.

Rombongan Ibnu Batuttah abad ke-14
Ibnu Batuttah, penjelajah dari Maroko, pernah mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1435. (Foto: Maqamat of Hariri)

"Bila sultan naik gajah orang lain harus naik kuda dan bila raja naik kuda orang harus naik gajah," urai Batuttah, seperti diterjemahkan ulang oleh H.A.R Gibbs dalam Travels in Asia and Africa 1325-1354.

Batuttah menyebut ibukota kerajaan tersebut sebagai 'Sumutra'. Menurut Batuttah, ibukota cukup besar dan indah, dikelilingi oleh tembok-tembok kayu dan menara-menara yang juga terbuat dari kayu.

Di dalam tembok itulah para penguasa dan bangsawan tinggal. Sementara rakyat hidup di luar tembok.

"Semua kehidupan komersial kota, para pendatang baru desa, orang-orang asing, para pengrajin dan segala aktivitas urban lainnya ditempatkan di luar pagar keliling kota," sebut Muhammad Gade Ismail.

Rumah-rumah penduduk dibangun di atas tiang-tiang dari pohon pinang atau kelapa. Rotan digunakan sebagai pengikatnya. Kebanyakan rumah dibangun di tepi pantai.

Masyarakat Samudra Pasai umumnya bermata pencaharian menangkap ikan dan menanam padi.

Buat berdagang dan menukar barang, mereka menggunakan kepingan uang yang terbuat dari timah dan emas yang enggak dilebur.

Meski Samudra Pasai dipimpin oleh orang Islam, masih ada penduduk yang memegang kepercayaan lama, terutama di wilayah pedalaman atau hutan. Mereka kadang-kadang berkonflik dengan penguasa Samudra Pasai.

Kejayaan dan Keruntuhan Samudra Pasai

Meski ada beberapa konflik internal penguasa-penduduk, Samudra Pasai berkembang sebagai kota pelabuhan yang ramai.

"Tumbuhnya kerajaan Islam Samudra Pasai tidak dapat dipisahkan dari letak geografisnya yang senantiasa tersentuh pelayaran dan perdagangan internasional melalui Selat Malaka yang sudah ada sejak abad-abad pertama Masehi," terang Uka Tjandrasasmita dkk. dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid III.

Tome Pires, seorang penjelajah asal Portugis, menyebutkan bahwa Kota Pasai adalah kota terpenting pada masanya untuk seluruh pulau Sumatera

Kota itu berpopulasi lebih-kurang 20.000 orang. Penduduk kota punya struktur sosial yang berlapis-lapis.

Buku Suma Oriental Tome Pires
Buku Suma Oriental yang memuat catatan Tome Pires tentang Samudra Pasai pada abad ke-16. (Foto: archives.org)

Menurut arkeolog Ayatrohaedi dalam "Struktur Masyarakat Pasai", lapisan-lapisan ini dimulai dari raja dan para bangsawan di puncak hingga hamba sahaya di dasar piramida sosial.

Di lapisan birokrasi, ada kelompok penting seperti perdana menteri, menteri, tentara, dan pegawai kerajaan. Selain itu, ada juga kelompok yang bergerak di bidang perdagangan, seperti pedagang, pelaut, dan nahkoda.

Selain warga lokal, kota ini juga dihuni oleh pedagang dari Bengal, Rum, Turki, Arab, Persia, Gujarat, Keling, Melayu, Jawa, dan Siam. Keberagaman ini menjadikan Pasai sebagai pusat pertukaran budaya dan ekonomi yang penting pada masanya.

Perkembangan Samudra Pasai juga enggak lepas dari menurunnya dominasi Sriwijaya di Sumatera. Karena kendali Sriwijaya melemah, kerajaan baru seperti Samudra Pasai muncul.

Samudra Pasai pernah menghadapi serangan dari kerajaan besar seperti Majapahit sepanjang 1340-1345. Awalnya serangan itu mampu ditahan oleh Samudra Pasai. Namun, pada akhirnya, Samudra Pasai takluk.

Samudra Pasai perlahan memudar. Peran kota pelabuhan digantikan oleh Kesultanan Malaka yang mulai muncul. Lalu kemunculan Kesultanan Aceh membuat Samudra Pasai menjadi bagian dari wilayah kerajaan tersebut pada abad ke-16.

Meski jejak ibukota Samudra Pasai enggak berbekas lagi, peninggalan masyarakat dan penguasa Pasai seperti makam, koin emas, dan manuskrip bisa kamu lihat di Museum Islam Samudra Pasai di Beuringen, Aceh Utara.

Begitulah, guys, cerita tentang Samudra-Pasai, kerajaan yang dulunya mungkin 'anak bawang' tapi berhasil jadi bintang di antara kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit. Dari sini, kita bisa belajar banyak: gimana cara tetap bertahan dan berkembang meskipun di tengah persaingan yang ketat.

Yuk, kita juga bisa melakukan hal yang sama dalam hidup kita. Teruslah mencari cara untuk menyatukan semua urusan kita dengan cara yang kreatif dan penuh semangat. Keep hustling, guys! (dru)

#Hikayat #Sejarah #Sejarah Indonesia
Bagikan
Ditulis Oleh

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.

Berita Terkait

Keluarga Bos Bir Dunia Berebut Warisan Lanjut di Historis House of Guinness Musim ke-2
Netflix resmi mengumumkan kelanjutan serial drama historis House of Guinness ke musim kedua.
Wisnu Cipto - Sabtu, 13 Juni 2026
Keluarga Bos Bir Dunia Berebut Warisan Lanjut di Historis House of Guinness Musim ke-2
Piala Dunia 2026 Dibuka di Stadion Azteca, Saksi Kejayaan Pele dan Kontroversi 'Hand of God' Diego Maradona
Stadion Azteca akan membuka Piala Dunia 2026. Stadion tersebut menyimpan banyak momen bersejarah selama gelaran Piala Dunia.
Soffi Amira - Kamis, 11 Juni 2026
Piala Dunia 2026 Dibuka di Stadion Azteca, Saksi Kejayaan Pele dan Kontroversi 'Hand of God' Diego Maradona
21 Mei Memperingati Hari Apa? Soeharto Mengundurkan Diri dari Jabatan Presiden RI
Tanggal 21 Mei memperingati Hari Reformasi Nasional, Hari Teh Internasional, hingga sejarah berdirinya FIFA. Simak daftar peristiwa pentingnya lengkap di sini
ImanK - Rabu, 20 Mei 2026
21 Mei Memperingati Hari Apa? Soeharto Mengundurkan Diri dari Jabatan Presiden RI
12 Mei Memperingati Hari Apa? Ada Tragedi Trisakti hingga Gempa Sichuan 2008
12 Mei memperingati berbagai hari penting nasional dan internasional, mulai dari Tragedi Trisakti, Hari Perawat Internasional, hingga Hari Waisak. Simak sejarahnya
ImanK - Senin, 11 Mei 2026
12 Mei Memperingati Hari Apa? Ada Tragedi Trisakti hingga Gempa Sichuan 2008
7 Mei Memperingati Hari Apa? Ini Fakta Mengejutkan yang Jarang Diketahui
Tanggal 7 Mei memperingati apa? Simak 10 peristiwa penting, Hari Perjanjian Roem-Royen, Hari Kopi Nasional, hingga peringatan dunia yang jarang diketahui.
ImanK - Rabu, 06 Mei 2026
7 Mei Memperingati Hari Apa? Ini Fakta Mengejutkan yang Jarang Diketahui
5 Mei Memperingati Hari Apa? Dari Kelahiran Karl Marx hingga Wafatnya Didi Kempot
5 Mei memperingati berbagai hari penting seperti Hari Bidan Internasional, Hari Kebersihan Tangan Sedunia, hingga Hari Lembaga Sosial Desa. Simak ulasannya
ImanK - Senin, 04 Mei 2026
5 Mei Memperingati Hari Apa? Dari Kelahiran Karl Marx hingga Wafatnya Didi Kempot
4 Mei Memperingati Apa? Dari Star Wars Day hingga Hari Lahir Cesc Fabregas
Tanggal 4 Mei memperingati Hari Pemadam Kebakaran Internasional hingga Star Wars Day. Simak daftar lengkap peristiwa penting di Indonesia dan dunia.
ImanK - Minggu, 03 Mei 2026
4 Mei Memperingati Apa? Dari Star Wars Day hingga Hari Lahir Cesc Fabregas
Rekor Gol Penalti Tercepat dalam Sejarah Final Piala Dunia Masih Dipegang Johan Neeskens Saat Belanda vs Jerman Barat
Gol Neeskens tersebut tercatat sebagai gol tercepat yang pernah tercipta dalam sebuah laga final Piala Dunia pria hingga saat ini
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 04 April 2026
Rekor Gol Penalti Tercepat dalam Sejarah Final Piala Dunia Masih Dipegang Johan Neeskens Saat Belanda vs Jerman Barat
Jejak Kopi Tertua di Semarang, Warisan Rasa Sejak 1915
Bekas pabrik kopi legendaris Koffie Branderij Margo Redjo, yang berdiri sejak 1915, tetap hidup dan kini menjelma sebagai Dharma Boutique Roastery.
Wisnu Cipto - Minggu, 22 Maret 2026
Jejak Kopi Tertua di Semarang, Warisan Rasa Sejak 1915
9 Maret Memperingati Hari Apa? Ini Fakta Menariknya
9 Maret memperingati Hari Musik Nasional hingga sejumlah peringatan dunia. Simak sejarah, makna, dan daftar peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 9 Maret.
ImanK - Minggu, 08 Maret 2026
9 Maret Memperingati Hari Apa? Ini Fakta Menariknya
Bagikan