MerahPutih.com - Tradisi Grebeg Gunungan saat perayaan Idul Adha menjadi salah satu momen budaya paling dinantikan masyarakat di Yogyakarta.
Perayaan yang digelar oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini bukan sekadar ritual adat, tetapi juga mencerminkan perpaduan kuat antara budaya Jawa dan ajaran Islam yang telah hidup turun-temurun.
Dikutip dari berbagai sumber, dalam tradisi Grebeg Besar atau Grebeg Idul Adha, Keraton Yogyakarta mengarak gunungan berisi hasil bumi dan aneka makanan tradisional sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan kemakmuran.
Gunungan tersebut biasanya terdiri dari sayur-mayur, cabai merah, kacang panjang, telur, ketan, hingga jajanan tradisional yang disusun menyerupai gunung.
Bentuk gunungan dipercaya melambangkan kesejahteraan sekaligus harapan akan kehidupan yang makmur bagi masyarakat. Tradisi ini juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam filosofi budaya Jawa.
Baca juga:
Sate Lalat, Kuliner Unik Madura yang Bisa Jadi Inspirasi Olahan Daging Kurban
Prosesi dimulai dari kawasan keraton dengan iring-iringan para abdi dalem yang mengenakan pakaian adat Jawa lengkap. Dengan langkah tertib dan penuh khidmat, mereka membawa gunungan menuju Masjid Gedhe Kauman untuk didoakan sebelum akhirnya dibagikan kepada masyarakat.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa sakral dengan alunan gamelan tradisional yang mengiringi arak-arakan. Ribuan warga dan wisatawan biasanya memadati area sekitar keraton untuk menyaksikan langsung prosesi budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun tersebut.
Puncak acara terjadi ketika gunungan mulai diperebutkan warga. Tradisi rebutan gunungan ini menjadi daya tarik utama karena masyarakat percaya setiap bagian dari isi gunungan membawa berkah, keselamatan, dan rezeki. Tidak sedikit warga rela berdesakan demi mendapatkan sayuran, cabai, atau makanan dari gunungan untuk dibawa pulang.
Baca juga:
Tradisi Hadrat di Maluku, Warisan Islami yang Hidupkan Semangat Idul Adha
Dalam konteks Idul Adha, Grebeg Gunungan memiliki makna spiritual yang erat dengan nilai pengorbanan dan keikhlasan. Perayaan ini menjadi simbol berbagi rezeki kepada masyarakat, sejalan dengan semangat kurban yang diajarkan dalam Hari Raya Idul Adha.
Melalui tradisi tersebut, Keraton Yogyakarta juga ingin menegaskan pentingnya kepedulian sosial, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Tuhan.
Karena itu, Grebeg Gunungan bukan hanya menjadi perayaan budaya tahunan, tetapi juga cerminan filosofi hidup masyarakat Jawa yang menjunjung harmoni dan semangat berbagi dalam kehidupan bersama.
Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus upaya menjaga identitas budaya lokal agar terus lestari dari generasi ke generasi. (Far)

