Merahputih.com - Pekerja membuat lamang tapai makanan khas Minangkabau di industri rumahan kawasan Kramat Raya, Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).
Lamang Tapai merupakan salah satu penganan tradisional yang telah lama dikenal dalam khazanah kuliner Nusantara. Makanan ini terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan kelapa, kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu yang telah dilapisi daun pisang. Proses memasaknya dilakukan dengan cara dibakar perlahan di atas bara api, sehingga menghasilkan aroma khas bambu dan daun pisang yang meresap ke dalam ketan. Teknik memasak tradisional inilah yang memberikan cita rasa gurih dan tekstur lembut yang menjadi ciri khas lemang.
Bagi masyarakat, khususnya saat bulan Ramadan, lemang bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi kuliner yang selalu dinantikan. Penganan ini kerap disajikan sebagai menu takjil untuk berbuka puasa. Rasanya yang gurih dan mengenyangkan menjadikannya pilihan tepat setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Tidak jarang, lemang juga dinikmati bersama tapai ketan hitam yang manis dan sedikit asam, menciptakan perpaduan rasa yang khas dan menggugah selera.
Pada bulan Ramadan, keberadaan lemang semakin mudah ditemui di berbagai sudut kota. Para pedagang biasanya menjualnya di pasar kaget Ramadan maupun pusat-pusat kuliner yang ramai dikunjungi masyarakat. Beberapa lokasi yang dikenal sebagai tempat berburu lemang antara lain Sentra Kuliner Nasi Kapau Kramat dan Pasar Takjil Bendungan Hilir (Benhil). Di tempat-tempat tersebut, lemang menjadi salah satu hidangan yang paling diburu pengunjung menjelang waktu berbuka.
HargaLamang Tapai yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Satu batang lemang umumnya dijual dengan kisaran harga antara Rp30.000 hingga Rp50.000, tergantung ukuran dan tempat penjualannya. Dengan harga tersebut, pembeli dapat menikmati penganan tradisional yang tidak hanya lezat, tetapi juga sarat nilai budaya. Kehadiran lemang di bulan Ramadan pun menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat istimewa di tengah berkembangnya ragam makanan modern. (Foto: MP/Didik Setiawan).