Merahputih.com – Kementerian Agama (Kemenag) resmi mengeluarkan panduan khusus terkait pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang berbarengan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 H pada 19 Maret 2026.
Panduan ini ditujukan untuk menjaga harmoni antarumat beragama di Bali, mengingat dua perayaan besar tersebut berpotensi berlangsung pada waktu yang sama.
“Prinsipnya, jika memang waktunya bersamaan, kedua perayaan ini tetap dapat dijalankan dengan saling menghormati dan penuh pengertian,” kata Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, kepada media, Minggu (8/3).
Baca juga:
Khusus Berlaku di Bali
Kemenag juga mengingatkan masyarakat agar tidak terpengaruh oleh framing di media sosial yang menyebut panduan ini berlaku secara nasional. Panduan ini murni untuk Bali, sebagai bentuk toleransi dan penghormatan terhadap tradisi Nyepi.
"Panduan ini hanya untuk Bali dan jika malam takbiran bersamaan dengan Hari Raya Nyepi. Sekira ada yang membuat konten media sosial dengan framing bahwa panduan ini untuk semua daerah, itu tidak benar," tandas Thobib.
Baca juga:
9 Doa Menenangkan Hati Sambut Kemenangan di Malam Takbiran dan Saat Idul Fitri
3 Poin Panduan Takbiran Bareng Nyepi
Panduan ini tertuang dalam Seruan Bersama yang ditandatangani Ketua FKUB Bali Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali I Gusti Made Sunartha, Kapolda Bali Irjen Daniel Adityajaya, Komandan Korem 163/Wira Satya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, dan Gubernur Bali Wayan Koster.
Berikut panduan takbiran di Bali yang berbarengan dengan momen Hari Raya Nyepi:
1. Umat Islam diperkenankan melaksanakan Takbiran di Masjid atau Mushola terdekat dengan berjalan kaki, tanpa penggunaan pengeras suara, tanpa menyalakan petasan/mercon atau bunyi-bunyian lainnya, serta menggunakan penerangan secukupnya, mulai pukul 18.00 WITA sampai dengan pukul 21.00 WITA.
2. Pengamanan dan ketertiban pelaksanaan Takbiran menjadi tanggung jawab masing-masing pengurus Masjid atau Mushola, dengan tetap berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat.
3. Prajuru Desa Adat, Pengurus Masjid atau Mushola, Pecalang, Linmas, serta Aparat Desa/Kelurahan bertanggung jawab untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban pelaksanaan Nyepi maupun kegiatan Takbiran di wilayahnya masing-masing, dengan berkoordinasi secara sinergis bersama aparat keamanan.
(Knu)

