MerahPutih.com - Ramadan menjadi waktu yang identik dengan peningkatan ibadah, pengendalian diri, serta memperbanyak amal kebaikan.
Sementara di era digital, muncul pertanyaan baru: bagaimana hukum bermain game seharian saat berpuasa? Apakah hal tersebut memengaruhi sah atau tidaknya puasa?
Pada dasarnya, bermain game tidak termasuk hal yang membatalkan puasa. Selama seseorang tidak makan, minum, atau melakukan hal-hal yang secara jelas membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam Matahari, maka puasanya tetap sah.
Baca juga:
5 Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Berbuka Puasa, Nomor 1 Paling Sering Dikonsumsi
Hukum Bermain Game Seharian saat Puasa Ramadan
Artinya, dari sisi hukum fikih, bermain game, baik di HP, komputer, maupun konsol, tidak membatalkan puasa.
Meski tidak membatalkan secara hukum, bermain gim seharian penuh hingga melalaikan ibadah tentu menjadi persoalan tersendiri.
Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga hati, pikiran, serta memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang lebih bernilai.
Baca juga:
Pakai Obat Tetes Mata Bisa Membatalkan Puasa? Ini Penjelasan Ulama
Jika selalu bermain game seharian, maka dapat menyebabkan seseorang menjadi:
1. Lalai salat wajib,
2. Mengabaikan kewajiban lain,
3. Berkata kasar atau marah karena kalah,
4. Menghabiskan waktu tanpa jeda untuk ibadah,
Hal tersebut dapat mengurangi pahala puasa, meskipun tidak membatalkannya. Dalam ajaran Islam, puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, tetapi juga melatih pengendalian hawa nafsu dan penggunaan waktu secara bijak.
Bermain game dalam porsi wajar untuk mengisi waktu luang saat menunggu berbuka tentu diperbolehkan. Bagi sebagian orang, game bisa menjadi sarana relaksasi agar tidak terlalu fokus pada rasa lapar dan haus.
Namun, kuncinya adalah keseimbangan. Jangan sampai aktivitas tersebut justru membuat Ramadan berlalu tanpa peningkatan kualitas ibadah.
Baca juga:
Apakah Membunuh Serangga Bisa Membatalkan Puasa? ini Penjelasannya
Bermain game seharian saat puasa tidak membatalkan puasa secara hukum. Namun, dilakukan berlebihan hingga melalaikan kewajiban dan mengurangi kualitas ibadah, maka hal itu tidak sejalan dengan semangat Ramadan.
Bijak dalam mengatur waktu menjadi kunci. Ramadan hanya datang setahun sekali, sehingga penting untuk memanfaatkannya sebaik mungkin, tanpa harus sepenuhnya meninggalkan hiburan, tetapi tetap menempatkannya pada porsi yang tepat. (Far)