Hikayat

Tausyiah

Info Ramadan

Kuliner

Quran

Info Imsakiyah

Jadwal Sholat

Hiburan & Gaya Hidup Berita

Cara Salat Tarawih Ramadan: Niat, Rukun, dan Jumlah Rakaat

Angga Yudha Pratama - Selasa, 17 Februari 2026

Merahputih.com - Aroma gorengan takjil mulai tercium, dan suara tadarus dari pengeras suara masjid segera memecah keheningan malam. Ramadan 2026 segera menyapa umat Muslim, membawa kembali kenangan manis tentang saf yang rapat dan lantunan ayat suci yang syahdu dalam Salat Tarawih.

Puasa yang muncul setahun sekali ini sering kali membuat ingatan akan tata caranya sedikit memudar. Wajar saja, jeda lebih dari 5 bulan terkadang membuat urutan niat dan rukun terasa asing kembali di memori.

Baca juga:

Breaking News: Pemerintah Tetapkan Puasa Ramadan 2026 Jatuh Kamis 19 Februari

Penyegaran Niat dan Rukun Salat

Mengingat kembali rukun salat menjadi langkah awal agar ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas fisik. Salat Tarawih diawali dengan niat yang tulus, kemudian dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Fatihah dan potongan ayat Al-Qur’an. Urutan gerakan tetap mengikuti standar salat pada umumnya, mulai dari rukuk, iktidal, sujud, hingga tasyahud akhir dan salam pada setiap dua rakaat.

Kualitas ibadah ini bertumpu pada kesungguhan dalam melafalkan niat. Berikut adalah bacaan niat Salat Tarawih untuk makmum atau pelaksana mandiri:

"Ushalli sunnatat tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālā." (Artinya: “Aku berniat salat sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.”)

Polemik Jumlah Rakaat: Kualitas vs Kuantitas

Baca juga:

Hitungan Astronomi Pemerintah, Puasa Ramadan Diprediksi Jatuh Kamis (19/2)

Setiap tahun, diskusi mengenai jumlah rakaat 8 atau 20 selalu menghiasi ruang publik. Namun, esensi dari Salat Tarawih sebenarnya terletak pada kekhusyukan dan kesanggupan pelaksananya.

Pendapat mengenai 8 rakaat banyak merujuk pada praktik salat malam Nabi Muhammad SAW yang khusyuk dan tidak memberatkan, sebagaimana didukung oleh para ulama kontemporer seperti Syekh Abdul Aziz bin Baz dan Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

“Salat Tarawih adalah salat sunnah yang hanya ada saat Ramadan tiba. Bagi yang melaksanakannya akan mendapatkan banyak pahala, sementara yang tidak melaksanakannya tidak berdosa,” demikian kutipan kaidah fikih yang menjadi landasan fleksibilitas jumlah rakaat.

Pada akhirnya, baik jumlah 8 maupun 20 rakaat, keduanya memiliki dasar keilmuan yang kuat dan sah untuk dilaksanakan. (Tka)

Baca Artikel Asli