Mengenal Hisab Hakiki Dalam Penentuan 1 Ramadan

Minggu, 02 Maret 2025 - Alwan Ridha Ramdani

MerahPutih.com - Dalam menetapkan 1 Ramadan, Muhammadiyah menggunakan metode hisab yang berpedoman pada gerakan nyata Bulan di langit, sehingga awal dan akhir bulan kamariah ditentukan berdasarkan posisi atau pergerakan Bulan. Metode ini dikenal sebagai hisab hakiki.

Dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, organisasi ini memilih hisab hakiki karena perhitungan dalam metode ini harus didasarkan pada posisi aktual Bulan dan Matahari secara akurat pada saat itu.

Dalam hisab hakiki, Muhammadiyah menerapkan kriteria wujudul hilal, yang berarti Matahari terbenam lebih dulu daripada Bulan, meskipun hanya selisih satu menit atau kurang. Ide ini pertama kali dikemukakan oleh pakar falak Muhammadiyah, Wardan Diponingrat.

Menurut buku Pedoman Hisab Muhammadiyah, dalam metode hisab hakiki wujudul hilal, bulan kamariah baru dimulai apabila pada hari ke-29 bulan berjalan, saat Matahari terbenam, tiga syarat terpenuhi secara kumulatif.

Baca juga:

Bubur Samin Makanan Khas Banjar Kalimantan Yang Dinanti Warga Solo Saat Ramadan

Syarat-syarat tersebut meliputi: terjadinya ijtimak (konjungsi), ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam, dan pada saat Matahari terbenam, piringan atas Bulan masih berada di atas ufuk.

Jika salah satu dari syarat ini tidak terpenuhi, maka bulan berjalan akan dilengkapi menjadi 30 hari, dan bulan baru dimulai pada hari berikutnya.

Muhammadiyah meyakini bahwa metode hisab hakiki wujudul hilal memberikan kepastian yang lebih tinggi dibandingkan metode hisab lainnya, seperti hisab hakiki imkanur rukyat.

Menurut Muhammadiyah, jika Bulan sudah berada di atas ufuk pada saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, berapapun tingginya (meskipun hanya 0,1°), maka hari berikutnya sudah dianggap sebagai awal bulan baru. (far)

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan